Ask Our Expert

TANYA DOKTER
dr. Bram Pradipta. SpOG
22 Oct 2018

Infertilitas atau gangguan kesuburan merupakan suatu masalah yang mempengaruhi jutaan pasangan di seluruh dunia dan merupakan suatu sterss emosional dan merupakan beban ekonomi yang cukup besar untuk menanganinya. Pasangan dapat dianggap memiliki ganguan kesuburan apabila tidak berhasil hamil walaupun telah melakukan hubungan seks secara teratur dan tanpa alat kontrasepsi selama satu tahun. Penyebab infertilitas dapat dapat disebabkan oleh fakor wanita maupun faktor pria. Gaya hidup tertentu diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesuburan.

Makanan cepat saji atau yang sering disebut junk food merupakan jenis makanan yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Makanan capat saji memiliki rasa yang lezat dan tersedia dibanyak tempat sehingga cukup mudah untuk mendapatkannya. Konsumsi junk food yang berlebihan, selain  dapat  menyababkan obesitas dapat juga menimbulkan gangguan kesehatan lain termasuk gangguan kesuburan. Junk food memiliki kandungan lemak, gula, dan garam yang tunggi yang dapat menybabkan gangguan metabolisme yang mempengaruhi kesuburan.

Junk food dapat menurunkan kesuburan seorang wanita. Pada suatu penenilitaan yang melibatkan 5598 wanita usia reproduksi, didapatkan konsumsi junk food yang tinggi merupakan salah satu faktor risko terjadinya gangguan kesuburan. Pada wanita yang tidak mengkonsumsi junk food akan menurunkan risiko terjadinya infertilitas sebanyak 41% dibandingkan wanita yang mengkonsumsi junk food lebih dari 4 kali dalam 1 minggu.

Gangguan kesuburan pada pria dapat disebabkan karena terjadinya penurunan jumlah dan kualitas sperma. Pada suatu penelitian yang dilakukan pada 769 pria usia reproduksi, didapatkan konsumsi junk food menyebabkan gangguan kesuburan. Pada penelitian ini pada pria yang menkonsumsi junk food 1-2 kali perminggu dapat menurunkan jumlah sperma sebanyak 10% dan menurunkan konsentrasi sperma sebanya 13.7 %. Pada pria yang mengkonsumsi junk food lebih dari 3 kali seminggu akan mengami penurunan jumlah sperma sebanyak 24,5 % dan penurunan konsentrasi sperma sebanyak 17.2 %.

dr. Bram Pradipta. SpOG
22 Oct 2018

Toilet kotor menjadi fobia bagi banyak orang. Sebagian besar orang akan memilih untuk tidak buang air kecil di toilet yang kotor. Mengapa? Faktanya, toilet merupakan salah satu tempat dengan tingkat kontaminasi kuman yang tinggi karena penggunanya memiliki tingkat higienitas yang berbeda-beda. Kuman yang terdapat di dalam toilet dapat berpindah dari satu orang ke orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Perpindahan secara langsung terjadi melalui sentuhan (pada pegangan pintu, dudukan toilet, keran air), sedangkan secara tidak langsung melalui sel kulit yang terlepas secara tidak disadari oleh manusia. Dengan banyaknya kuman yang ada, pengguna toilet kotor memiliki risiko untuk terkena penyakit menular, seperti diare, infeksi saluran kemih, dan sebagainya.

Agar terhindar dari resiko terkena penyakit di toilet umum:

  1. Hal yang pertama adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah dari toilet. Dengan mencuci tangan, kita bisa mengurangi kuman yang ada di tangan kita akibat sentuhan (baik pada pegangan pintu, dudukan toilet, keran air, gadget, dan benda-benda yang terkontaminasi lainnya). Studi menyatakan bahwa saat ini kesadaran orang-orang mencuci tangan ketika menggunakan toilet masih sangat rendah padahal risiko yang ditimbulkan akibat tidak mencuci tangan cukup besar.
  2. Hal kedua yang dapat dilakukan adalah dengan memilih toilet jongkok agar bagian tubuh kita tidak bersentuhan dengan toilet yang kotor tersebut. Jika toilet jongkok tidak tersedia maka yang perlu kita lakukan ada membasuh dudukan toilet dengan air bersih (jika perlu memberikan disinfektan) lalu memberikan alas tisu untuk duduk.
  3. Hal ketiga adalah membersihkan toilet yang sudah kita pakai dengan flush/menyiram toilet, membuang sampah pada tempatnya, dan tidak membasahi lantai toilet, sehingga kita sendiri menjadi pengguna toilet yang bersih dan berperan serta menjaga kebersihan toilet yang telah kita gunakan.
dr. Bram Pradipta. SpOG
22 Oct 2018

Yogurt kaya akan protein, vitamin, mineral seperti kalsium, kalium, magnesium, vitamin B, sama seperti kandungan susu. Buat perempuan yang concern terhadap berat badan. Studi menunjukkan bahwa konsumsi yogurt dapat membantu menurunkan dan menjaga berat badan ideal di samping menjaga kesehatan pencernaan.

Konsumsi yogurt buat memenuhi nutrisi harian karena juga bermanfaat untuk:

  1. Mencegah infeksi akibat ketidakseimbangan mikroorganisme salah satunya bisa menyebabkan keputihan, yogurt bisa mengurangi gejala dan peradangan berulang pada vagina dan saluran kemih.
  2. Mencegah osteoporosis, karena yogurt mengandung kalsium dan vitamin D yang berperan penting untuk menjaga kepadatan tulang. Apalagi perempuan lebih rentan terhadap osteoporosis karena kehamilan dan ketidakseimbangan hormonal. 
dr. Bram Pradipta. SpOG
19 Jul 2019

Genital hair waxing, merupakan hal yang tidak asing lagi bahkan untuk kultur negara timur seperti Indonesia. Genital Waxing, atau menghilangkan rambut pada daerah daerah kewanitaan, dilakukan oleh berbagai wanita dengan alasan yang berbeda. Pada kultur modern, hairlessness, atau ketidakadaan rambut baik pada daerah kewanitaan maupun daerah lain, dikatakan sebagai simbol femininitas. Rambut pada daerah kewanitaan dilihat sebagai hal yang tidak bersih sehingga berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan rambut-rambut tersebut. 

Rambut pubis atau rambut kemaluan memiliki fungsi dasar sebagai pelindung mukokutan(lapisan kulit) awal terhadap bakteri maupun virus. Sehingga ketika rambut pubis dihilangkan, baik dengan waxing ataupun cara apaun, dapat meningkatkan risiko kemungkinan terjangkitnya penyakit menular seksual. Sebuah penelitian mengatakan adanya hubungan antara penyakit kulit yang menular pada daerah kemaluan dengan kebiasaan genital hair waxing. 

Keadaan lain yang sering terjadi dengan genital hair waxing adalah infeksi. Folikulitis, atau radang pada folikel rambut, seringkali terjadi akibat genital waxing. Waxing dapat menimbulkan inflamasi, yang mana dapat meningkatkan risiko infeksi.

Ingin tau lebih dalam seputar masalah kesehatan? Konsultasikan masalah kesehatanmu dengan ahlinya secara GRATIS di sini