Ask Our Expert

TANYA DOKTER
dr. Bram Pradipta. SpOG
04 Dec 2018

Genital hair waxing, merupakan hal yang tidak asing lagi bahkan untuk kultur negara timur seperti Indonesia. Genital Waxing, atau menghilangkan rambut pada daerah daerah kewanitaan, dilakukan oleh berbagai wanita dengan alasan yang berbeda. Pada kultur modern, hairlessness, atau ketidakadaan rambut baik pada daerah kewanitaan maupun daerah lain, dikatakan sebagai simbol femininitas. Rambut pada daerah kewanitaan dilihat sebagai hal yang tidak bersih sehingga berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan rambut-rambut tersebut. 

Rambut pubis atau rambut kemaluan memiliki fungsi dasar sebagai pelindung mukokutan(lapisan kulit) awal terhadap bakteri maupun virus. Sehingga ketika rambut pubis dihilangkan, baik dengan waxing ataupun cara apaun, dapat meningkatkan risiko kemungkinan terjangkitnya penyakit menular seksual. Sebuah penelitian mengatakan adanya hubungan antara penyakit kulit yang menular pada daerah kemaluan dengan kebiasaan genital hair waxing. 

Keadaan lain yang sering terjadi dengan genital hair waxing adalah infeksi. Folikulitis, atau radang pada folikel rambut, seringkali terjadi akibat genital waxing. Waxing dapat menimbulkan inflamasi, yang mana dapat meningkatkan risiko infeksi.

Ingin tau lebih dalam seputar masalah kesehatan? Konsultasikan masalah kesehatanmu dengan ahlinya secara GRATIS di sini